Advertorial Breaking Featured

Bupati Daeng Manye Pastikan Festival Pondok Pesantren Takalar Digelar Setiap Tahun, Transaksi UMKM Capai Rp1,5 Juta per Hari

Share berita ini
Bupati Daeng Manye Pastikan Festival Pondok Pesantren Takalar Digelar Setiap Tahun, Transaksi UMKM Capai Rp1,5 Juta per Hari
Bupati Daeng Manye Pastikan Festival Pondok Pesantren Takalar Digelar Setiap Tahun, Transaksi UMKM Capai Rp1,5 Juta per Hari
Bupati Daeng Manye Pastikan Festival Pondok Pesantren Takalar Digelar Setiap Tahun, Transaksi UMKM Capai Rp1,5 Juta per Hari

PORTALMETRO.ID, Takalar – Bupati Takalar, Ir. H. Mohammad Firdaus Daeng Manye, MM, memastikan Festival Pondok Pesantren (Ponpes) se-Kabupaten Takalar akan menjadi agenda tahunan selama dirinya menjabat sebagai bupati. 

Kepastian tersebut disampaikan saat malam penutupan festival yang berlangsung meriah setelah tiga malam pelaksanaan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026.

Selain menjadi ajang unjuk kreativitas dan bakat para santri, festival yang digagas Daeng Manye tersebut turut memberikan dampak ekonomi melalui pameran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Berdasarkan laporan yang diterima bupati, transaksi di sejumlah stan pameran berkisar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per hari.

Dalam sambutannya pada malam penutupan, Daeng Manye mengungkapkan kebanggaannya terhadap antusiasme para santri, pimpinan pondok pesantren, serta masyarakat yang memadati lokasi kegiatan selama festival berlangsung.

Menurutnya, setiap pondok pesantren mengirimkan pendukung untuk memberikan semangat kepada peserta yang tampil dalam berbagai pertunjukan seni dan perlombaan. Suasana tersebut mencerminkan kebersamaan, sportivitas, dan kegembiraan para santri.

“Saya melihat antusiasme penonton luar biasa. Masing-masing pondok mengirimkan pendukungnya untuk memberikan semangat kepada teman-temannya agar tampil baik, penuh semangat, ceria, dan gembira,” ungkap Daeng Manye.

Ia menjelaskan, penyelenggaraan festival tersebut dipersiapkan dalam waktu relatif singkat, sekitar 45 hari sejak pembicaraan awal hingga pelaksanaan. Namun, melalui kerja sama panitia yang melibatkan unsur pimpinan pondok pesantren, Kementerian Agama, dan Pemerintah Kabupaten Takalar, kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan baik.

Bupati pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan pihak yang telah berkontribusi menyukseskan festival perdana tersebut.

“Saya memberikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap pelaksanaan kegiatan ini. Panitianya kompak dan bekerja dengan baik. Insyaallah, tahun depan akan lebih bagus lagi karena kita sudah memiliki pengalaman dan gambaran untuk melakukan berbagai perbaikan,” ujarnya.

Dipastikan Menjadi Agenda Tahunan

Daeng Manye menegaskan, Festival Pondok Pesantren tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial untuk memeriahkan Hari Santri Nasional, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi bagi pimpinan pondok, pengasuh, dan santri dari berbagai pesantren di Kabupaten Takalar.

Menurutnya, festival tersebut dapat dimanfaatkan untuk bertukar gagasan, memperkuat hubungan antarpesantren, serta mengembangkan kemampuan dan potensi generasi muda.

Ia menyebutkan, sejumlah masukan telah disampaikan melalui seminar dan evaluasi kegiatan, termasuk usulan penambahan cabang perlombaan pada penyelenggaraan berikutnya.

Cabang yang diusulkan antara lain tahfiz Al-Qur'an, kemampuan berbahasa Arab dan Inggris, serta berbagai bidang kreativitas lain yang dapat menunjang pengembangan kompetensi santri.

“Sepanjang saya menjabat sebagai Bupati Takalar, insyaallah Festival Pondok Pesantren ini akan terus dilaksanakan. Tahun ini menjadi penyelenggaraan pertama, dan tahun depan serta seterusnya kita berharap kegiatan ini semakin baik dan menarik,” tegasnya.

Ia berharap, penyelenggaraan secara berkelanjutan dapat mendorong peningkatan kualitas pendidikan pesantren sekaligus memperluas kesempatan bagi santri untuk menunjukkan prestasi di berbagai bidang.

Pesantren sebagai Benteng Moral Bangsa

Dalam kesempatan tersebut, Daeng Manye juga menekankan pentingnya peran pondok pesantren dalam membentuk karakter dan moral generasi muda.

Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan ekonomi, tetapi harus diimbangi dengan penguatan intelektualitas, integritas, akhlak, dan mental generasi penerus bangsa.

Ia mengingatkan bahwa kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan materi, tetapi juga dapat menyangkut pengetahuan, moral, dan karakter.

“Ketika terjadi kemiskinan intelektual, integritas, dan karakter, bangsa itu mempertaruhkan masa depannya. Di sinilah pondok pesantren memiliki peran sebagai benteng moral, sementara masa depan bangsa juga berada di tangan para santri,” tuturnya.

Karena itu, Pemerintah Kabupaten Takalar, lanjutnya, akan terus mendorong sinergi dengan para pimpinan pondok pesantren untuk memperkuat pendidikan keagamaan dan membangun sumber daya manusia yang berakhlak, berpengetahuan, mandiri, serta mampu berkontribusi bagi pembangunan daerah.

Transaksi UMKM Capai Rp1,5 Juta per Hari

Selain menampilkan kemampuan seni dan kreativitas santri, festival tersebut juga menghadirkan pameran produk UMKM yang memberikan ruang promosi bagi pelaku usaha di lingkungan pesantren.

Daeng Manye mengungkapkan, berdasarkan laporan yang diterimanya, transaksi di sejumlah stan pameran mencapai kisaran Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per hari.

Capaian tersebut menjadi salah satu dampak ekonomi yang menyertai pelaksanaan festival. Melalui pameran, para santri dan pondok pesantren memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan produk unggulan sekaligus mengembangkan jiwa kewirausahaan.

“Ini juga luar biasa karena terbuka kesempatan bagi anak-anak kita untuk berkreasi melalui UMKM. Kegiatan ini bukan hanya menjadi ajang kreativitas, tetapi juga memberikan tambahan nilai ekonomi bagi mereka dan pondok pesantren,” jelasnya.

Ia berharap, ke depan semakin banyak pondok pesantren yang mengembangkan produk kreatif dan usaha mandiri sehingga kegiatan pendidikan dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi.

Berharap Menjadi Inspirasi bagi Daerah Lain

Bupati Takalar turut mengapresiasi para pimpinan pondok pesantren, pengasuh, santri, tokoh masyarakat, ulama, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan festival.

Ia mengaku mengikuti rangkaian kegiatan sejak malam pembukaan, malam kedua, hingga malam penutupan. Dari rangkaian tersebut, ia dapat menyaksikan langsung kreativitas dan kemampuan para santri dari berbagai pondok pesantren.

Menurutnya, antusiasme masyarakat yang hadir, ditambah perhatian terhadap siaran langsung melalui media sosial, menunjukkan bahwa festival tersebut mendapat sambutan positif.

Daeng Manye berharap, Festival Pondok Pesantren Takalar dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam menyelenggarakan kegiatan yang memadukan pendidikan, kebudayaan, pembentukan karakter, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Menjelang pengumuman pemenang perlombaan, ia juga mengajak seluruh peserta menerima hasil kompetisi dengan lapang dada. Ia menilai setiap penampilan merupakan bentuk karya dan kebanggaan santri Takalar yang patut dihargai.

Dengan berakhirnya penyelenggaraan perdana ini, Pemerintah Kabupaten Takalar berharap Festival Pondok Pesantren dapat menjadi agenda berkelanjutan untuk melahirkan generasi santri yang unggul, berkarakter, kreatif, dan mandiri, sekaligus memperkuat kontribusi pesantren dalam pembangunan daerah.****

Editor: Manrajai Daeng Ngawing.

 

Chat with us on WhatsApp