Metro Breaking Featured

Rapat Pleno Musda Golkar Takalar Memanas, Diduga Nyaris Dipukul: Pengurus AMPI Takalar Geram Melihat Sikap Salah satu Bakal Calon

Share berita ini
Rapat Pleno Musda Golkar Takalar Memanas, Diduga Nyaris Dipukul: Pengurus AMPI Takalar Geram Melihat Sikap Salah satu Bakal Calon
Rapat Pleno Musda Golkar Takalar Memanas, Diduga Nyaris Dipukul: Pengurus AMPI Takalar Geram Melihat Sikap Salah satu Bakal Calon
Rapat Pleno Musda Golkar Takalar Memanas,Diduga Nyaris Dipukul: Pengurus AMPI Takalar Geram Melihat Sikap Salah satu Bakal Calon

PORTALMETRO.ID, Takalar – Rapat Pleno Pengurus DPD II Partai Golkar Kabupaten Takalar yang digelar pada Minggu (1/11/2026) berlangsung diwarnai ketegangan. Situasi sempat memanas setelah terjadi perbedaan pendapat antara peserta rapat terkait mekanisme pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Takalar.

Rapat yang membahas pembentukan panitia Musda dihadiri sejumlah unsur organisasi partai, di antaranya pengurus DPD II, Dewan Pertimbangan, Pimpinan Kecamatan (Pincam), serta organisasi sayap Partai Golkar.

Kegiatan tersebut dilaksanakan berdasarkan surat undangan DPD II Partai Golkar Takalar Nomor: 090/DPD-II/PG-TK/X/2026.

Ketegangan bermula ketika Yusuf, salah seorang kader Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), mempertanyakan redaksi undangan yang menyebutkan agenda rapat sebagai "Rapat Pleno Diperluas Sesuai AD/ART".

Menurut Yusuf, istilah tersebut perlu diperjelas karena, berdasarkan pemahamannya, tidak terdapat nomenklatur rapat dengan penyebutan demikian dalam AD/ART Partai Golkar.

"Saya sebagai pengurus AMPI merasa kecewa. Saya hanya mempertanyakan mengapa dalam undangan Musda tertulis Rapat Pleno Diperluas Sesuai AD/ART, sementara dalam AD/ART Partai Golkar tidak ada bentuk rapat dengan penyebutan seperti itu," ungkap Yusuf.

Ia juga mempertanyakan pencantuman agenda verifikasi keikutsertaan Pimpinan Kecamatan (Pincam) dalam Musda. Menurutnya, apabila rapat pleno tersebut didasarkan pada surat dari DPD I Partai Golkar, pembahasan mengenai verifikasi keikutsertaan Pincam seharusnya menjadi ranah Panitia Pengarah (Steering Committee).

Suasana rapat semakin memanas ketika salah seorang bakal calon (HB) berdiri dan berteriak sambil bergerak ke arah belakang ruangan. Namun, gerakannya sempat ditahan oleh salah seorang pengurus Partai Golkar yang berada di lokasi.

Yusuf juga menyayangkan sikap pimpinan sidang (ZA) yang dinilainya tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk menyampaikan pendapat dalam forum tersebut.

Ia mengaku mendapat alasan bahwa rapat hanya diperuntukkan bagi pengurus DPD II Partai Golkar Takalar. Padahal, menurut Yusuf, undangan rapat secara jelas turut mencantumkan organisasi sayap partai sebagai pihak yang diundang.

"Saya sangat menyayangkan sikap pimpinan sidang yang terkesan otoriter dan tidak memberikan kesempatan kepada saya untuk berbicara. Padahal, organisasi sayap Golkar juga tercantum dalam undangan," ujarnya.

Yusuf mengaku memilih menahan diri agar situasi tidak semakin memanas dan tetap menjaga etika dalam forum internal partai.

Peristiwa tersebut menjadi catatan tersendiri dalam proses persiapan Musda Partai Golkar Takalar. Dinamika yang muncul diharapkan dapat disikapi melalui komunikasi, keterbukaan, serta mekanisme organisasi sesuai AD/ART partai.

Hingga berita ini terbit, belum terdapat keterangan atau klarifikasi dari pihak bakal calon berinisial HB maupun pimpinan sidang berinisial ZA terkait insiden dan pernyataan Yusuf.****

Reporter: Manrajai Daeng Ngawing.

 

Chat with us on WhatsApp